RSS Feed

KALAJENGKING NERAKA

Posted by lulu jamaludin kamal Labels:



Di hari kiamat akan keluar seekor binatang dari neraka jahanam yang bernama "Huraisy" berasal dari anak kala jengking.

Besarnya Huraisy ini dari timur hingga ke barat. Panjangnya pula seperti jarak langit dan bumi.

Malaikat Jibril bertanya : "Hai Huraisy! Engkau hendak ke mana dan siapa yang kau cari? 


"Huraisy pun menjawab, "Aku mau mencari lima golongan orang.

*Pertama, orang yang meninggalkan sholat Fardhu.

*Kedua, orang yang tidak mau mengeluarkan zakat.


*Ketiga, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya.


*Keempat, orang yangmembicarakan tentang urusan dunia

di dalam masjid.

*Kelima, orang yang suka minum arak/khamar."

AS SYIFA DENGAN SEMUA PESONA_NYA

Posted by lulu jamaludin kamal Labels:


Sekitar awal tahun 2009 hingga pertengahan merupakan saat-saat terakhir saya bekerja di perpustakaan kampus UAI sebagai pegawai kontrak. Sempat terdesak keluar dan belum tahu akan pindah bekerja dimana. Sedangkan mengingat usia sudah mulai bertambah dan persaingan kerja bukan lagi hanya dengan yang seusia tapi juga dengan fresh graduate yang kualitasnya banyak di atas saya.
Zaman dan era globalisasi memaksa setiap orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup semata bukan lagi pengabdian kepada Allah atau secara sadar bekerja karena bernilai ibadah. Hal tersebut sangat sulit ditemukan di Jakarta namun sebaliknya, karakter dan mental kapitalis dengan jelas dan mudah dapat ditemukan disana. Mungkin, dulu saya adalah salah satu korbannya. Tidak memungkiri kenyataan bahwa materialisme bisa menjadi suatu momok menyeramkan andaikata seseorang dengan gaya hidup yang tadinya sangat sederhana apalagi miskin bisa berubah drastis menjadi pemuja berhala baru yakni kekayaan. Membuatnya lupa akan asal-usulnya dulu sebelum kaya. Hidup seperti inilah yang sepertinya sudah menjadi budaya di Jakarta sebagai salah satu pusat kegiatan metropolis yang menjadi tujuan bagi para pengubah nasib. Sangat mengerikan juga bagi saya kalau saya jadi tertular penyakit dan gaya hidup metropolitan yang menyerang tanpa pandang bulu itu.
Selain kontrak kerja yang sudah pada limitnya, suatu keadaan hati yang tidak baik juga saya rasakan sebagai pemicu pindahnya saya dari tempat kerja ini. Setelah beberapa lamaran pekerjaan dikirim ke berbagai tempat dan banyak panggilan interview telah saya jalani namun hingga bulan April belum juga ada kabar baik mengenai tempat kerja baru. Kegiatan rohani yang saya jalani selama di Al-Azhar sebenarnya banyak membantu saya terlindung dari sifat kapitalis, namun tidak menutup kemungkinan saya untuk tergelincir ke dalamnya. Tawaran kerja yang bersifat kejar target dan mengejar orang-orang yang berhutang, juga bukan pilihan yang baik.
Diantara banyaknya benang kusut yang menyeruak di pikiran dan batin saya di tambah suasana hati yang sangat tidak mengenakkan, muncullah tawaran dari sang Murobbi saat saya halaqoh suatu sore di rumahnya seperti biasa. Awalnya coba-coba saja karena di saat seperti itu, tidak boleh ada kesempatan yang terlewatkan. Mendengar kata As Syifa pertama kali dari bibir beliau sepertinya masih terdengar asing apalagi berupa sekolah berasrama atau sebutan jaman dulunya pesantren namun anak-anak modern jaman sekarang lebih suka menyebutnya boarding school. Tempatnya? Di luar Jakarta pula. Sudah bisa dibayangkan bahwa seandainya saya diterima disana maka saya harus pindah dan bermukim di Subang tempat As Syifa berada.
Jujur, saya tidak memiliki bekal apapun kalau harus merantau sejauh Subang. Tapi entah mengapa hati saya sangat yakin untuk menjalani semua ini. Banyaknya testimoni yang positif mengenai As Syifa melalui pengalaman saudara, murobbi sendiri dan teman-teman membuat orangtua juga meridhoi saya untuk memulai tahapan test tertulis hingga wawancara. Saat itu memang belum melepas pekerjaan di Jakarta hingga semua tahapan usai. Akhirnya pada bulan Juli setelah pengalaman bolak-balik Subang Jakarta tanpa menginap, pengumuman itupun datang melalui SMS. Saya diharuskan datang karena berhasil diterima sebagai pustakawan dan satu-satunya yang berhasil lolos dari sekian pendaftar pustakawan. Awalnya sempat ragu juga, apa saya memang berkompeten di bidang ini apalagi menurut bocoran hasil test potensi akademik, nilai saya merupakan capaian tertinggi dari seluruh pelamar jenis bidang kerja apapun. Padahal saingannya juga tidak main-main. Sejauh itu, saya hanya berpikir bahwa Allah benar-benar bersama saya dan mendukung keputusan ini. Bulan Juli akhir saya resmi resign dari perpustakaan Universitas Al-Azhar Indonesia. Kampus yang saya cintai dengan begitu banyak kenangannya, rumah dengan begitu banyak lika-likunya, dan banyak teman-dengan begitu banyak canda tawanya untuk saya selama di Jakarta. Sedih pasti iya, tapi demi mengejar masa depan yang lebih baik mengapa harus berpikir berkali-kali lagi? Apalagi As Syifa merupakan tempat yang baik yakni berupa lembaga pendidikan yang juga sama seperti Universitas Al Azhar.
Pindah ke suatu tempat baru bukan hal yang mudah apalagi Subang memiliki suhu jauh di bawah Jakarta yang panasnya minta ampun. Selama test dan pelatihan dilaksanakan sebelum saya benar-benar pindah sebenarnya saya sudah banyak menemukan semacam tambatan hati untuk bekal saya bisa betah tinggal di tempat baru. Tambatan hati itu pertama, suasana yang masih asri. Bayangkan, ada sawah di depan asrama, kebun nanas menghampar di sekitar bukit di samping asrama, dan hutan pohon kayu berkelebat di seluruh lingkaran area lembaga ini. Sebenarnya masih banyak tempat yang bersawah, berkebun dan berhutan di sekitar As Syifa dan itu masih sah asli milik penduduk sekitar yang belum dibebaskan lahannya oleh mereka. Kedua, tempat kerja yang tidak memerlukan biaya transportasi. Hal ini bisa menutup gaya hidup materialism yang masih agak menjangkiti orang bekas metropolitan seperti saya. Gaji bisa tetap utuh karena ditabung atau bisa fokus untuk mengalokasikannya dengan hal yang lebih bermanfaat. Ketiga, ikhwahnya. Karena para pendiri As Syifa memang berlatar belakang tarbiyah seperti yang sudah saya jalani selama ini saya pun tidak ragu berada di bawah naungannya karena semua yang bekerja di As Syifa wajib tarbiyah/ halaqoh.
Melalui test wawancara, wawasan saya sedikit bertambah mengenai As Syifa. Saat itu saya langsung diwawancarai oleh sang empunya pendiri As Syifa pertama kali. Bapak ini masih bisa dibilang setengah baya dan terlihat cerdas meskipun pendidikannya baru sampai D3 saja. Tutur katanya tekonsep, runtun dan jelas. Tentu saja bukan hasil latihan melainkan sebuah karakter muslim yang sudah tertarbiyah lama. Orang yang humoris, tegas, seorang penulis dan juga orang rantau yang berasal dari Depok. Jadi, saat mewawancarai saya beliau sudah seperti memiliki field of experience yang sama dengan saya. Jujur menurutnya kalau yang saya cari adalah materi, terang-terangan beliau menyebutkan As Syifa bukanlah tempatnya. Karena As Syifa belum mampu membayar gaji pegawai sebagaimana Al-Azhar tempat saya bekerja dulu. Itulah kata-katanya yang selalu saya ingat hingga sekarang. Kata-kata itu juga yang mampu menjadi semacam penguat saya untuk selalu bertahan dan bersyukur di setiap kemungkinan pahit apapun di As Syifa. Lagipula kalau materi yang saya cari untuk apa saya mencoba di As Syifa dengan segala testimoni yang saya dapatkan dari banyak orang? Yah, maklumlah As Syifa juga baru tahun keempat berdiri, jadi masih memiliki banyak problem yang membuatnya jatuh bangun terutama masalah kesejahteraan pegawai. Tapi tekadnya yang dituangkan dalam visi misi As Syifa memang ingin menjadikan guru yang terampil, kaya dan preagel dengan cara yang unik yakni program guru emas.
Melalui bapak enam anak inilah saya mendapat bocoran cerita kecil tentang asal muasal berdirinya boarding school ini. Awalnya saat bapak ini beserta teman-temannya sedang melakukan mukhoyyam di Ciater yang saat itu sedang memutar sebuah film documenter Palestin, dr. Sulaeman Umar Qush sedang berada di tempat yang sama. Karena melihat kegiatan yang dilakukan bapak ini dan teman-temannya, beliau sangat kagum dan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apa yang akan dilakukan bapak ini dan teman-temannya jika dia bersedia memberi bantuan untuk “dakwah” di Indonesia khususnya di Subang dari Qatar. Dengan berbagai pertimbangan dan singkat cerita dari beliau, yang jelas setelah itu dr. Sulaeman berazzam ingin berdakwah di Indonesia dengan caranya yaitu mendirikan masjid-masjid di berbagai tempat di daerah sekitar Subang. Langkah selanjutnya adalah mendirikan Yayasan As syifa Al Khoeriyyah ini pada tahun 2003. Dana yang di alirkan dari dr. Sulaeman ini merupakan amanah yang ditimpakan kepada bapak ini dan teman-temannya untuk terus mendirikan masjid-masjid dan madrasah di sekitar wilayah Yayasan didirikan. Menurut dalam profil FB As Syifa Charity ada sekitar 500 lebih masjid yang telah dibangun dan tersebar di seluruh wilayah Subang dan Jawa Barat baik besar maupun kecil (musholla).
Bocoran sedikit mengenai dr. Sulaeman Umar Qush. Beliau adalah seorang keturunan asli Palestine. Sebelum pensiun beliau adalah seorang kepala Rumah Sakit militer di sana. Subhanallah! Tekadnya untuk memberi bantuan di Indonesia melalui jalan dakwah ini sulit ditiru karena beliau adalah pribadi yang pantang menyerah, pantang mengeluh dan selalu bekerja karena Allah ta’ala. Usianya sudah hampir 60 tahun tapi beliau tidak pernah absen ke masjid untuk sholat berjamaah di masjid As Suweidy. Konon nama As Syifa ini diambil dari latar belakang beliau yang seorang dokter. As Syifa yang berarti obat setidaknya memiliki falsafah tempat pengobat hati bagi manusia yang ingin memperbaiki dirinya. Sayapun merasakannya karena pada saat saya ke As Syifa, segala kekecewaan dan penyakit hati yang berasal dari Jakarta terobati sudah setelah berada disini. Hmm ^_^
Pengalaman menyaksikan pesona As syifa pertama kali adalah saat pelatihan hari kedua. Kami diajak jalan-jalan ke atas bukit yang notabene masih milik As Syifa. Kami harus menapaki jalan mendaki dan terkadang sangat terjal-mampu membuat pinggang serasa patah- sekitar 5 kilometer jauhnya. Jalur yang dibuat memang melewati banyak kebun nanas dan hutan-hutan yang masih milik warga. Namun dari situlah As Syifa sepertinya sengaja membuat pendekatan yang merakyat sehingga tidak ada batas seperti pagar di sekitarnya. Jauh sampai ke atas, atase As Syifa ini memang sengaja mengantar kami menengok apa saja yang dimiliki As Syifa di atas bukit itu. Ada peternakan ayam, beberapa perkebunan dan peternakan sapi. Setelah sampai di atas, lelahnya raga ini tergantikan oleh nikmat dan indahnya pemandangan yang bisa dilihat dari atas bukit tersebut. Subhanallah indah!
Pada 4 Desember 2005 Yayasan As Syifa Al Khoeriyyah ini diresmikan di Tambak Mekar. Bermula dari sinilah akhirnya dakwah diteruskan dengan keinginan membangun sebuah lembaga pendidikan untuk umat Islam di Indonesia. Maka dibangunlah As Syifa Boarding School, Subang. Sekolah berasrama yang memiliki visi membangun peradaban. Pembangunan pertama kali adalah sekolah dan asrama puteri SMPIT As Syifa. Tentu karena angkatan pertama, maka mereka menamakan angkatan mereka ANGKASA (Angkatan Satu) tahun ajaran 2006-2009. Tahun ajaran berikutnya (2007) sekolah dan asrama putera pun dimulai.
As Syifa ini tidak hanya mendirikan sekolah Islam terpadu namun juga sebuah lembaga tahfiz untuk para daiyyah yang ingin menggali ilmu Al Quran lebih dalam. LTIQ atau Lembaga Tahfiz dan Ilmu Al Quran dengan batas usia maksimal 22 tahun, sudah bisa mendaftar disini. Lulus dari lembaga ini para santri akan mengabdi di As Syifa sebagai guru tahfiz murid SMP dan SMA atau di luar sesuai pilihan atau rencana mereka masing-masing.
Tahun keempat berdirinya boarding school As Syifa, adalah saat saya baru datang. Saya yang saat melamar di As Syifa dan menjalani test ingin menempati posisi pustakawati-sebagaimana pengalaman kerja saya sebelumnya- malah berubah menjadi bunda asrama juga karena wawancara oleh bapak itu.
Beliau bertanya, “..sekarang jumlah wali kamar sangat minim, seandainya ibu ditempatkan sebagai bunda asrama apakah ibu bersedia?”
Alasan apa yang bisa saya berikan untuk menolak karena saya hanya bisa berkata, “InsyaAllah bisa Pak.”
Saat itu angkatan keempat yang dilahirkan diberi nama PERMATA oleh seorang guru yang di tahun itu juga keluar. Nama ini agak berbeda setelah ketiga angkatan sebelumnya bertema benda langit, ANGKASA, ANDROMEDA, dan ATMOSFER. Sebagaimana nama-nama angkatan sebelumnya, PERMATA ini juga memiliki akronim, Persatuan Muslimah Tangguh. Namun sekarang di tahun ketiga mereka sebagaimana saya, nama itu berubah akronim menjadi Perkumpulan Muslimah Angkatan Empat. Tapi yang jelas sama baiknya. Kini setelah dua tahun di awal saya membimbing ATMOSFER, akhirnya saya bersama PERMATA sekarang. Nama-nama angkatan ini hanya untuk santri puteri.
Pekerjaan menjadi Bunda tidak semudah yang dibayangkan meskipun banyak yang iri dengan pekrjaan kami. Di sela-sela waktu saat seorang guru istirahat bunda asrama bekerja bersama anak meskipun hanya sekedar mendampingi sholat di masjid. Di saat guru-guru sedang beristirahat di rumdisnya malam hari, justru kami baru memulai kerja kami membimbing anak-anak di kamar dari mulai mendengar curhat, ajakan-ajakan kebaikan hingga ide-ide cemerlang dari kepala mereka. Bagi kami, tidak bisa tidur sebelum pukul sepuluh malam atau bahkan lebih jika ada anak yang masih belum tidur. Saya yakin rekan guru pun sebenarnya memiliki kadar yang sama namun dengan tempat yang berbeda saja. Di As Syifa kami bekerjasama, bahu membahu dan menumbuhkan generasi baru setiap tahunnya. Kami masih dalam taraf memulai untuk membangun sebuah peradaban sebagaimana visi As Syifa. Banyak hal-hal yang masih baru dimulai seperti penggunaan bilingual bahasa, peraturan-peraturan dan pemekaran perpustakaan sebagai pusat budaya. Dalam hal ini dituntut kekuatan fisik, hati dan pikiran untuk tetap bertahan karena Allah bukan karena yang lain. Bekerja bermotto Mardhotillah harus ditancapkan sedalam-dalamnya di qolbu jika ingin bisa berhasil dan bertahan disini karena saya akui banyak sudah sumber daya manusia yang keluar masuk dengan begitu cepatnya karena tidak merasa puas dengan keadaan yang ada.
Bagi saya sendiri, hidup seperti ini bagai membalik 180 derajat dari hidup saya di Jakarta sebelumnya. Pemandangan gedung-gedung bertingkat digantikan dengan hamparan sawah dan gunung di sepanjang jalan Cagak. Setiap pagi bahkan sampai malam bisa terus menerus menghirup udara segar. Biaya hidup jadi lebih hemat. Budaya konsumerisme bisa dikendalikan dengan jatah makan tiga kali teratur. Di Jakarta? Belum tentu pulang kerja mau makan di rumah. Pasti kepengin jajan. Lingkungan yang terjaga dengan sesama orang-orang yang sefikroh, sekufu dan setarbiyah. Di Jakarta, mungkin kita dengan tetangga akan berbeda paham dan pelaksanaan ibadah bahkan dengan teman kerja. Menata hati dengan batas-batas yang diajarkan agama antara ikhwan dan akhwat masing-masing sudah mengetahuinya sehingga mudah untuk bekerjasama baik dalam pekerjaan maupun kehidupan biasa. Di Jakarta, mungkin orang sholeh dan sholehah bisa mudah kita temukan, tapi yang mengerti/paham akan pelaksanaan ibadahnya kiranya jarang ditemukan. Niat bekerja hanya karena ridho Allah (mardhotillah) dan berbakti kepada orangtua, namun di Jakarta niat materialisme dan menghamburkan uang atas nama persahabatan suit dihindari.
Kehidupan yang lebih religius (menghafal Quran, sholat berjamaah di masjid, shoum sunnah berjamaah, halaqoh rutin, program ruhiyah anak, dll) membuat saya lebih merasa “terisi” ketimbang hiruk pikuk Jakarta yang menyeramkan dengan kehidupan materialistisnya. Semua yang berkaitan dengan anak adalah tugas bunda asramanya untuk mendampingi kecuali di sekolah. Disini mudah menemukan ustad/ustadzah untuk bertanya, mudah menemukan teladan/contoh mulia sebagai seorang pribadi muslim, mudah mencari inspirasi penguat taqwa, mudah mencari kajian pemersatu batin kepada Illahi, mudah belajar bersabar karena keadaan, mudah beramal karena keihlasan dan mudah mendapat ilmu karena selalu belajar setiap detik dari tanda-tanda alam melalui berbagai perantaranya. Kelemahan saya sebelumnya berubah menjadi sebuah kekuatan yang menjadikan saya pribadi baru yang lebih baik sekarang. Saya rasakan perubahan saya bertahap karena apa yang saya pijak tidak pernah lepas dari ridho kedua orangtua dan pastinya ridho Allah SWT. Janji Allah selalu terbukti, “…Berdoalah, maka akan Aku Kabulkan..” dan “…di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan sungguh, di balik kesulitan ada kemudahan.” Saya, merasakan keduanya ^_^.
Jika dari awal hingga sekarang saya ditanya oleh kawan lama atau saudara mengenai apakah saya betah tinggal disini? Saya akan menjawab. Sejauh ini belum ada alasan saya untuk keluar dan mencari kehidupan yang lebih baik selain di As Syifa. Dengan nikmat sebanyak itu, apakah saya harus berhenti bersyukur apalagi meminta sesuatu yang belum kita miliki sedangkan syukur kita belumlah sempurna? Mungkin terdengar idealis namun saya hanya memacu diri saya untuk senantiasa menjaga rasa syukur ini sejak awal saya mulai hingga akhir nanti entah kapan. As Syifa adalah hadiah terindah dengan segala pesonanya dari Allah SWT kepada saya dan kepada siapapun yang pandai mensyukuri nikmatNya.
Whatever Allah gives to me I’m sure that is the best I have to greeting of.
Here, I started a big change. And I want had a big blessing here too.
Subang, 21 Oktober 2011
Besonderes fur KamaL.
By : Ratih Murdiyati
(GUTE FREUNDE ME)

Marhaban Ya Ramadhan

Posted by lulu jamaludin kamal Labels:

Beberapa Perkara Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Ramadhan.

**Tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan maksud berjaga-jaga
jangan sampai Ramadhan telah masuk pada satu atau dua hari itu sementara mereka tidak
mengetahuinya. Adapun kalau berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan karena
bertepatan dengan kebiasaannya seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud dan lain-lain, maka
hal tersebut diperbolehkan.
Seluruh hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan
Muslim, Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

“Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali seseorang
yang biasa berpuasa dengan suatu puasa tertentu maka (tetaplah) ia berpuasa.”

**Penentuan masuknya bulan adalah dengan cara melihat Hilal. Hilal adalah bulan sabit kecil
yang nampak di awal bulan.
Dan bulan Islam hanya terdiri dari 29 hari atau 30 hari, sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah
bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam tatkala menyebut bulan Ramadhan beliau berisyarat dengan kedua tangannya
seraya berkata :

“Bulan (itu) begini, begini dan begini, kemudian beliau melipat ibu jarinya pada yang ketiga
(yaitu sepuluh tambah sepuluh tambah sembilan,-pent.), maka puasalah kalian karena kalian
melihatnya (hilal), dan berbukalah kalian karena kalian melihatnya, kemudian apabila bulan
tertutupi atas kalian maka genapkanlah bulan itu tiga puluh.”

Maka untuk melihat hilal Ramadhan hendaknya dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban setelah
matahari terbenam. Selang beberapa saat bila hilal nampak maka telah masuk tanggal 1
Ramadhan dan apabila hilalnya tidak nampak berarti bulan Sya’ban digenapkan 30 hari dan
setelah tanggal 30 Sya’ban secara otomatis besoknya adalah tanggal 1 Ramadhan.

KENAPA Harus Wanita SHOLEHAH??

Posted by lulu jamaludin kamal Labels:


Bismillahirrahmanirrahim

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?

Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..

Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?

Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..

Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?

Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?

Aku menjawab..

Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..

Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?

Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?

Aku menjawab..

Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?

Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?

Pada akhirnya, akupun menjawab…

Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..

Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.

Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…

Seberat itukah?

Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…